November 27, 2020

Kabar Rembang

Pandu – Semangat – Berkembang

Calon Bupati Rembang Angon Bebek dan Tukang Batu

Rembang, Kabar Rembang –Dari Senin malam (2 November 2020), jagat media sosial hangat memperbincangkan dialog Calon Bupati Rembang H. Harno, SE dengan presenter TVRI Semarang Nesa Gozhal dan Andreas Yulianto dalam acara dialog “Mengenal Lebih Dekat Kandidat”. Tanpa canggung dan malu-malu,  Calon Bupati Nomor Urut 1 (satu) itu mengakui masa kecilnya rekoso alias terbatas. Dia menjadi pengembala bebek dan kernet tukang batu dari sejak sekolah menengah sampai setelah lulus.

Harno adalah anggota DPRD Rembang dari Fraksi Partai Demokrat tiga periode. Dia juga pengusaha yang bergerak pada sektor financing, koperasi dan SPBU. Didampingi Calon Wakil Bupati H. Bayu Andriyanto, SE, pada dialog TVRI Semarang tersebut, Harno mengakui bekerja dan berdomisili di Rembang sejak masa muda setelah merantau di Jakarta, Jepara dan berbagai tempat. Dia berniat mengabdikan diri pada masyarakat Rembang. “Saya ingin mewujudkan Rembang yang semakin maju dan sejahtera,” tekadnya.

“Bersyukur dan merasa beruntung dengan pengalaman masa lalu itu hingga bisa merasakan yang dirasakan rakyat kecil, apalagi di masa pandemi. Situasi ekonomi semakin sulit, kesejahteraan menurun, dan kemiskinan meningkat. Saya mendengar dan merasakan kesulitan itu. Hati saya tergerak untuk berbuat sesuatu. Semacam mengabdikan diri dan bekerja untuk masyarakat,” katanya pada Kabar Rembang.

Prinsip hidup Harno adalah mengalir tetapi disertai perhitungan matang. Seperti di dunia usaha, di dunia politik, terlebih menjadi Kepala Daerah, butuh kepercayaan rakyat. Tidak mudah berusaha, sebagaimana tidak mudah dipercaya rakyat. Karena itu, menurut Harno, kalau tujuannya untuk mengabdi pada rakyat, urusan-urusan yang lain sebaiknya sudah selesai. Sekurang-kurangnya memiliki pijakan dan landasan yang kuat. Dari sana komitmen (mengabdi untuk rakyat—Red) bisa diwujudkan dalam sikap, perilaku dan kebijakan.

“Niat saya mengabdi pada rakyat. Maka, pada saat pendaftaran, saya sampaikan bahwa seluruh gaji saya serahkan untuk rakyat. Sebenarnya, niat mencalonkan diri sebagai bupati sudah ada pada Pilkada 2015. Tapi niat saja tak cukup. Harus disertai kalkulasi politik yang matang. Lima tahun lalu secara matematis tidak masuk. Dalam pilkada 2020 ini, perhitungannya memungkinkan. Ketemu dan menggandeng Pak Bayu. Insya Allah masyarakat percaya dan menang,” kata Harno, yang telah dua kali menunaikan ibadah haji.

Selalu Sekolah Sore

Harno anak keempat dari enam bersaudara. Orangtuanya petani desa di Grobogan. Masa kecil dan remajanya dihabiskan di desa kelahirannya. Baginya, menerima dan berdamai dengan keadaan itu sangat penting. Hal itu terlatih dengan sendirinya karena keterbatasan yang dialaminya. Sepanjang masa kecil dan remajanya, diakui,  ia angon bebek. Bebek-bebek yang digembala milik orangtua dan tetangga yang minta bantuan. Dengan senang hati, pekerjaan itu dilakukan tiap hari. Tak ada libur. Bagaimana dengan sekolahnya?

Sekolahnya selalu sore hari, baik di SMP, SLTA bahkan sampai kuliah.  Dengan sekolah sore hari, ia punya waktu longgar pagi hari. Sepanjang pagi sampai menjelang dluhur itu, digunakan untuk merawat dan angon bebek. Jika liburan semesteran SMP dan SLTA tiba, dia merantau ke Jakarta untuk bekerja di bangunan. Tadinya sebagai kernet tukang batu sampai kemudian menjadi tukang batu. Pekerjaan sebagai tukang batu berlanjut sampai beberapa tahun usai lulus SLTA. Tak ada sedikit pun rasa malu. “Semua dilakukan dengan senang hati. Apalagi banyak tetangga dan kawan-kawan sepermainan yang melakukan hal serupa,” ujarnya dengan santai, membuat sang presenter TVRI Andreas Yulianto tepuk tangan.

Musim pandemi yang membuat gowes sangat populer, membuat Harno ingat masa lalu. Sepanjang waktu sepedalah yang dipakai untuk transportasi kegiatan-kegiatannya. Baik ketika remaja maupun setelahnya saat bekerja di asuransi dan koperasi. “Dari sepeda, saya belajar arti kehidupan. Jalan menanjak untuk mengukur kemampuan, jalan menurun adalah bonus dan belajar mengendalikan diri. Jalan datar untuk belajar waspada dan hati-hati,” katanya bersilafat pada Kabar Rembang. Itulah pengembangan prinsip hidup mengalir dan harus perhitungan. 

Pekerja Keras untuk Rembang Matoh

Saat ini, Harno berbahagia dengan istri dan keempat putrinya. Sang istri, Musringah, dikenalnya ketika sama-sama sebagai karyawan koperasi. Musringah muda adalah gadis asal Bangi, Kabupaten Tuban, yang merantau di Rembang.

Pasangan Harno dan Musringah, dikarunia empat putri. Sulungnya, Harmusa Oktaviani, SE, adalah alumni Jurusan Ekonomi Bisnis FE Undip. Saat ini, dia menjadi anggota DPR Pusat dari Fraksi Demokrat. Harmusa terpilih dengan 75.995 suara dari Dapil Jateng III (Rembang, Blora, Grobogan, dan Pati). “Tidak. Dia saya latih menjadi pengusaha. Tapi karena ada peluang dan setelah dihitung memungkinkan, karier politik dijalaninya,” kata Harno menjawab pertanyaan presenter TVRI Nesa Gozhal apakah Harmusa diarahkan ke dunia politik.

Adiknya, Vella Mushardika, kini tengah menyelesaikan studi di Fakultas Kedokteran Undip Semarang. Putri ketiganya masih sekolah di SMA dan putri bungsu di SD.

Perjalanan karier Harno sangat berliku. Pada akhirnya Harno menjadi anggota DPRD tiga periode dan pengusaha sukses di bidang financing, koperasi dan SPBU. Presenter TVRI, Nesa Gozhal dan Andreas Yulianto, mengistilahkan perjalanan karier Calon Bupati Harno sebagai pekerja keras alias cah kerjo. Kira-kira artinya sejak kecil dan muda sudah suka dan tekun bekerja. Tanpa kenal lelah sampai sesukses sekarang.

Karakter pekerja keras itulah yang ingin dikembangkan di pemerintahan. Karena itu, pasangan Harno dan Bayu menggunakan tagline Matoh (istilah lokal yang bisa berarti mantap)kependekatan dari Maju, Tanggap dan KokohMaju artinya pembangunan harus menjadikan Rembang terus bergerak ke depan, memiliki aksi dan dinamika perubahan terus-menerus kepada sesuatu yang lebih baik. Tanggap berarti menjadikan pemerintahan Kabupaten Rembang cepat dan tepat (suka) dalam merespons kebutuhan masyarakat, menggugah hati, dan bersifat menanggapi atau memberi tanggapan (tidak masa bodoh) terhadap persoalan-persoalan rakyat. Kokohmerupakan ciri khas warga dan keluarga-keluarga di Kabupaten Rembang, yang ditunjukkan dengan  karakter yang kuat, tegar, tahan uji, bisa mengatasi masalah, tabah, dan tidak mudah menyerah. Prinsipnya, Harno sangat berharap jika menang dan terpilih menjadi bupati, Rembang harus matoh. (jp)