October 29, 2020

Kabar Rembang

Pandu – Semangat – Berkembang

Bayu Andriyanto dan istrinya Vivit Dinarini Atnasari selepas memberi pernyataan melepas kesempatan menjadi bakal calon wakil bupati PPP dalam Pilkada Rembang tahun 2020. (Radar Kudus)

Langkah Bayu Andriyanto Tepat dan Masuk Akal MELEPAS KESEMPATAN

Bayu Andriyanto dan istrinya Vivit Dinarini Atnasari selepas memberi pernyataan melepas kesempatan menjadi bakal calon wakil bupati PPP dalam Pilkada Rembang tahun 2020.

Rembang, Kabar Rembang – Keputusan Wakil Bupati Rembang Bayu Andriyanto melepas peluang dalam penjaringan PPP untuk posisi Bakal Calon Wakil Bupati (Bacawabup) dinilai tepat untuk mendapatkan kepastian. Keputusan itu rasional dan tidak terburu-buru. PPP tak bisa terus-menerus mengulur waktu karena tahapan pendaftaran pasangan calon tinggal satu setengah bulan.

Demikian dikatakan Drs. Joko J. Prihatmoko, M.Si dari Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Indonesia (LPPI) ketika dimintai tanggapan terkait keputusanBayu Andriyanto mundur dari penjaringan Bacawabup PPP untuk Pilkada Kabupaten Rembang tahun 2020. Penjaringan digelar Desember 2019 untuk menentukan pendamping Bupati Abdul Hafidz yang kembali hendak diusung sebagai Bacabup PPP.

Menurut Joko Prihatmoko, dua faktor menjadi penyebab keputusan tersebut. Pertama, sampai satu setengah bulan menjelang pendaftaran paslon (4 September 2020), Pak Abdul Hafidz (yang hendak diusung PPP-Red) masih menjalin komunikasi dengan berbagai pihak terkait pencalonan. Langkah Itu menimbulkan banyak tafsir, ketidakpastian dan sekaligus mengesankan tidak percaya diri. Padahal jumlah kursi PPP sudah cukup untuk mengusung calon, apalagi beliau incumbent.

Kedua, ketidakjelasan waktu atau mundur-mundurnya PPP dalam menetapkan pasangan calon. Penyaringan dan penjaringan selain ada prosedur juga ada batasan waktu. Proses yang terjadi di PPP tidak jelas prosedur dan waktunya. Penjaringan dilakukan Desember 2019 dan baru Juni 2019 sebanyak 4 bacawabup diusulkan mendampingi Bacabup. Di sela-sela itu, terjadi perubahan SK untuk pelaksanaan fit and proper test bacawabup. Tadinya DPP (Jakarta) lalu diubah DPC. Prosesnya terlihat main-main. Baiklah katakanlah dapat dipercaya bahwa saat ini DPP PPP sedang menganalisis dan mengevaluasi peluang. Pertanyaannya, sampai kapan? Kapan pasangan calon diputuskan? Kapan rekomendasi diturunkan? Jangan lupa, penjaringan dilakukan Desember 2019 dan Juni 2020 dijanjikan segera.

Bagi incumbent seperti Bayu, kata Joko Prihatmoko, kepastian pencalonan sangat penting. “Dimanapun incumbent tak ingin melepas kesempatan dalam periode berikutnya. Kalau boleh tiga periode, sebagian besar kepala daerah mendaftar lagi,” ujarnya. Yang harus menjadi catatan, selain sebagai incumbent yang memiliki popularitas publik, Bayu juga didukung Partai Nasdem yang mempunyai 7 kursi DPRD. Itu modal penting.

Joko Prihatmoko bahkan menilai keputusan Bayu tepat. “Cukup alasan untuk mengatakan bahwa PPP sedang memainkan strategi politik dengan buying time atau mengulur-ulur waktu penentuan paslon untuk mempersempit peluang pesaing atau kompetitor incumbent. Bayangkan, paslon dan rekomendasi diturunkan last minute menjelang penutupan pendaftaran paslon di KPU, lalu Bayu tidak direkomendasi. Dia akan kehilangan peluang. Resiko yang sama tentu akan dialami bacawabup lain jika Bayu yang dipasangkan dengan Pak Hafidz,” ujarnya.

Sebagaimana diketahui Juni lalu, DPC PPP Rembang menetapkan 4 nama yang diusulkan menjadi bacawabup mendampingi Bacabup Abdul Hafidz. Keempat nama ini adalah Bayu Andiyanto (Partai Nasdem), Harno (Partai Demokrat), Zaimul Umam, dan Arifin. Harno telah lebih dulu menyatakan mundur dari penjaringan.

Karena itu, tak beralasan jika langkah Bayu disebut terburu-buru dan prematur. Tindakan Bayu melepas peluang di PPP sangat rasional sebagai incumbent, apalagi dia tetap mencalonkan diri di posisi yang selama ini diduduki. (jp)